Skip to main content

Kemasan Retort




Kemasan Retort adalah salah satu kemasan yang agak rumit permasalahannya. Dari sekian banyak perusahaan flexible packaging yang ada di Indonesia hanya beberapa yang benar-benar expert dan memiliki "know how" untuk menghasilkan kemasan retort yang berkualitas. Adhesive quality, material, reliable process, personal discipline, timing, semuanya ikut menentukan.

Hal ini kadang kurang dipahami para brand owner terutama di level umkm. Pemahaman mereka bahwa semua plastik adalah sama dengan tipikal single layer (PE,PP, HDPE), membuat mereka membeli kemasan tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu terhadap penjual. Dan ketika diproses isinya luber kemana-mana karena bocor.

Umumnya kasus yang saya temui dari para pemain umkm ini adalah mereka membeli kemasan vakum kemudian di retort. Uniknya ada yang berhasil tetapi sebagian besar pasti bermasalah. Yang berhasil ini kemungkinan bisa jadi temperaturenya tidak terlalu tinggi dan prosesnya hanya sebentar atau plastik vakum yang dia dapat bisa jadi adhesive nya yang dipakai sudah general to medium purpose.

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab kenapa terjadi kebocoran tersebut. Salah satunya adalah yang terkait kepada material dan adhesivenya. Pada prinsipnya material-material plastik yang umum dipakai di dunia flexible packaging tidak akan hancur pada saat diretort karena memiliki titik lebur yang tinggi. Yang terjadi adalah material tersebut menjadi soft dan adhesive yang menempelkan lapisan-lapisan tipis yang membentuk material kemasan tersebut lama kelamaan rusak dan hilang sehingga kekuatan lapisan plastik yang tadinya kuat menahan tekanan yang ditimbulkan dari proses retort tersebut, makin lama makin lemah dan terjadilah kebocoran. Ibarat sebuah lidi yang kokoh dalam satu ikatan, dan ketika ikatan itu lepas, satu persatu lidi itu pun patah. Makanya untuk proses retort diperlukan material plastik dan adhesive yang stabil, tidak mengalami deformasi ketika diretort

Diproyeksikan permintaan kemasan retort dari umkm akan semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya para wiraswasta umkm baru yang masuk ke bisnis kuliner. Lifestyle yang berubah, membuat makanan-makanan yang "ready to eat" juga akan semakin dicari. Hanya saja para pemain umkm ini harus dibantu dalam hal minimal order yang seminim mungkin dan juga edukasi terhadap karakteristik dari kemasan itu sendiri. Supaya ketika mereka memulai usaha dan menemukan ada masalah, mereka bisa mencari solusinya dan tidak meninggalkan usaha barunya karena pusing memikirkan aspek kemasan nya.

Semoga tulisan singkat ini cukup berguna dan memberikan inspirasi bagi mereka-mereka yang ingin dan sedang merintis usaha kuliner. Terima kasih.

x

Comments

Popular posts from this blog

Adhesive Anchor Coating untuk Laminasi Extrusi

Pada artikel sebelumnya, saya menulis tentang penggunaan adhesive water-based di dry-lamination system. Sekarang saya ingin menyampaikan tentang penggunaan water-based di extrusion-lamination system. Sebenarnya tidak terlalu pas juga dibilang water-based karena pengunaan air sebagai pelarut hanya sedikit, paling banyak pelarut yang digunakan adalah Ethanol/Methanol/IPA. Di dunia coverting flexible packaging, penggunaan adhesive pada laminasi extrusi biasa digunakan pada resin PE. Hal ini dilakukan untuk memperkuat kekuatan bonding(daya rekat) antara film. Makanya suka disebut juga sebagai adhesive anchor coating, berfungsi layaknya “jangkar” yang memperkuat rekatan film. Di Indonesia umumnya jenis adhesive yang digunakan adalah solvent based, yang water based masih sedikit. Beberapa perusahaan yang saya kunjungi sudah menggunakan water-based tetapi jenis yang digunakan adalah “polyethylene imine”, dan jenis ini tidak terlalu bagus menghadapi kelembapan. Produk yang coba saya taw...

Belajar dari Kemasan si Kerupuk Kulit

Tahu kerupuk kulit kan? Makanan yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau ini cukup sering kita temukan di warung-warung makan. Kalau orang padang menyebutnya “kerupuk jangek” atau di jawa disebutnya “rambak”. Umumnya kerupuk kulit ini dikemas dengan menggunakan plastik PE atau PP yang monolayer. Pemahaman yang ada, kemasan monolayer dianggap kurang bagus dalam memberikan proteksi terhadap isinya. Apakah memang begitu ? Mari kita belajar dari kemasan plastik kerupuk kulit yang saya temukan ketika belanja di salah satu hypermarket. Kemasan plastik kerupuk ini memiliki ukuran 35mmx17mm dengan berat +/-16 grm. Transparansinya yang cukup bening mengindikasikan bahwa jenis plastik ini adalah PP. Berhubung saya tidak memilki thickness gauge, saya mencoba mencari tahu thickness material secara theory saja. Dengan asumsi density 0.91, maka akan didapat thickness plastik adalah +/- 147 micron. Produk makanan seperti kerupuk rambak ini sangat sensitif terhada uap air. Karena ka...

Karton Box, a.k.a. Kardus

Siapa yang tak kenal dengan karton box atau yang juga biasa disebut kardus ini. Saat dia ada kita suka membuangnya karena menuh-menuhin tempat aja. Tapi saat kita lagi butuh, kadang-kadang harus minta ke tetangga atau kalau perlu beli malah. Dia ada dimana-mana. Bahkan beberapa modern market shop menyediakan kardus bekas untuk menggantikan plastik supaya lebih “environmental friendly”.Tapi apakah kita sudah mengenal karton box itu seperti apa?.. Pada prinsipnya untuk mengidentifikasi apakah itu karton box atau bukan, bisa dilihat dari struktur lapisan kertasnya. Yaitu terdiri dari 3 lapisan. Lapisan dinding kertas bagian dalam, dinding kertas bagian luar dan “flute” atau kertas bergelombang untuk bagian tengahnya. Didalam aplikasi nya  lapisan  ini bisa lebih dari 3, tergantung fungsi dan tujuannya. Pada saat ini karton box boleh dikatakan sudah environmental friendly, karena sebagian sudah menggunakan pulp dari kardus bekas yang di daur ulang. Makanya kalau kita melewati pabr...