Skip to main content

Leasing



Salah satu kendala yang membuat perusahaan kurang tanggap didalam mengantisipasi perubahan kondisi; apakah itu kondisi dikarenakan keterbatasan kemampuan teknologi mesin untuk memproses order yang ada, efisiensi yang semakin berkurang karena umur mesin yang sudah semakin tua; adalah tidak tersedianya alokasi dana atau yang biasa disebut dengan capex-capital expenditure. Karena tidak dianggarkannya pada saat pembuatan budget tahunan, maka ketika muncul banyak permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan mesin dan satu-satunya solusi dengan melakukan investasi pembelian mesin baru, maka akan diperlukan waktu yang cukup lama untuk merealisasikannya karena selain harus menunggu tahun budget berikutnya, management juga harus mencari sumber dana untuk pembiayaannya, dan ini bukanlah hal yang mudah. Apalagi bagi perusahaan yang sama sekali tidak punya dana untuk pengadaan mesin baru. Makanya tidak heran apabila proses penggantian mesin dilakukan ketika mesin sudah benar-benar rusak, benar-benar tidak bisa digunakan lagi yang akhirnya membuat repot semua departemen. Bisa dipastikan sales department akan menjadi yang paling direpotkan karena harus menjadi “bemper” terhadap kemarahan client yang menginginkan barangnya dikirim secepatnya.

Ada satu solusi yang bisa diambil untuk mengatasi permasalahan diatas, yaitu melalui skema leasing.

Leasing adalah kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang modal untuk digunakan oleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu dengan pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih/opsi bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang modal yang tersebut atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.

 Dengan kata lain perusahaan tidak perlu mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk memiliki mesin baru dikarenakan sudah ada pihak lain (lessor) yang akan menalangi pembelian mesin tersebut dan menaruhnya di perusahaan  yang bersangkutan (lessee) sehingga bisa digunakan selayaknya mesin sendiri.

Ada 2 jenis leasing yaitu operational leasing dan financial leasing dan keduanya memiliki implikasi yang berbeda terhadap pajak dan pembukuan perusahaan. Hal ini tidak akan dibahas pada tulisan ini karena ingin lebih menfokuskan pada manfaat yang bisa didapatkan dari segi bisnis perusahaan.

Apa manfaat yang bisa didapatkan dari skema leasing ini :
  1. Tidak perlu penganggaran CAPEX, biaya bisa diambil dari operational cost dengan menyisipkan ke harga produk atau dibuat terpisah.
  2. Perusahaan bisa mendapatkan technology yang up to date. Pada saat akhir periode leasing bisa diminta untuk diganti dengan technology yang terbaru. Hal ini bisa membuat perusahaan tetap konsisten menjaga efisien produksi sekaligus tetap bisa bersaing dengan competitor terutama pemain-pemain baru yang membawa technology baru.
  3. Bisa meningkatkan produktivitas melalui penambahan fitur-fitur automatisasi.
  4. Tidak perlu pusing memikirkan maintenance dan biaya yang harus dikeluarkan, bisa diserahkan kepada pihak lessor sebagai pihak yang memiliki asset.
  5. Biayanya yang fixed sehingga hasilnya bisa memberikan perhitungan hasil yang lebih pasti.
 Di dunia manfucturing saya melihat konsep ini sudah umum digunakan pada industry coding. Ada juga permintaan untuk mesin labelling, tetapi khusus di Indonesia sepertinya belum terlalu dilayani.

Kadang-kadang masalah yang saya temukan di customer yang terkait dengan kualitas labelling sticker berhubungan dengan mesin labelling yang sudah cukup umur dan proses maintenance yang seadanya. Akhirnya terjadi konflik yang melibatkan banyak pihak, karena pihak pemilik material tidak mau disalahkan, pihak printer tidak mau disalahkan, pihak maintenance tidak mau disalahkan, sedangkan bagian sales sudah teriak minta barang segera dikirim.
Bagi para pembaca yang menginginkan mesin labelling sticker dengan teknologi terbaru dengan skema sistem leasing bisa menghubungi infokemasan.com.

Comments

Popular posts from this blog

Adhesive Anchor Coating untuk Laminasi Extrusi

Pada artikel sebelumnya, saya menulis tentang penggunaan adhesive water-based di dry-lamination system. Sekarang saya ingin menyampaikan tentang penggunaan water-based di extrusion-lamination system. Sebenarnya tidak terlalu pas juga dibilang water-based karena pengunaan air sebagai pelarut hanya sedikit, paling banyak pelarut yang digunakan adalah Ethanol/Methanol/IPA. Di dunia coverting flexible packaging, penggunaan adhesive pada laminasi extrusi biasa digunakan pada resin PE. Hal ini dilakukan untuk memperkuat kekuatan bonding(daya rekat) antara film. Makanya suka disebut juga sebagai adhesive anchor coating, berfungsi layaknya “jangkar” yang memperkuat rekatan film. Di Indonesia umumnya jenis adhesive yang digunakan adalah solvent based, yang water based masih sedikit. Beberapa perusahaan yang saya kunjungi sudah menggunakan water-based tetapi jenis yang digunakan adalah “polyethylene imine”, dan jenis ini tidak terlalu bagus menghadapi kelembapan. Produk yang coba saya taw...

Belajar dari Kemasan si Kerupuk Kulit

Tahu kerupuk kulit kan? Makanan yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau ini cukup sering kita temukan di warung-warung makan. Kalau orang padang menyebutnya “kerupuk jangek” atau di jawa disebutnya “rambak”. Umumnya kerupuk kulit ini dikemas dengan menggunakan plastik PE atau PP yang monolayer. Pemahaman yang ada, kemasan monolayer dianggap kurang bagus dalam memberikan proteksi terhadap isinya. Apakah memang begitu ? Mari kita belajar dari kemasan plastik kerupuk kulit yang saya temukan ketika belanja di salah satu hypermarket. Kemasan plastik kerupuk ini memiliki ukuran 35mmx17mm dengan berat +/-16 grm. Transparansinya yang cukup bening mengindikasikan bahwa jenis plastik ini adalah PP. Berhubung saya tidak memilki thickness gauge, saya mencoba mencari tahu thickness material secara theory saja. Dengan asumsi density 0.91, maka akan didapat thickness plastik adalah +/- 147 micron. Produk makanan seperti kerupuk rambak ini sangat sensitif terhada uap air. Karena ka...

Karton Box, a.k.a. Kardus

Siapa yang tak kenal dengan karton box atau yang juga biasa disebut kardus ini. Saat dia ada kita suka membuangnya karena menuh-menuhin tempat aja. Tapi saat kita lagi butuh, kadang-kadang harus minta ke tetangga atau kalau perlu beli malah. Dia ada dimana-mana. Bahkan beberapa modern market shop menyediakan kardus bekas untuk menggantikan plastik supaya lebih “environmental friendly”.Tapi apakah kita sudah mengenal karton box itu seperti apa?.. Pada prinsipnya untuk mengidentifikasi apakah itu karton box atau bukan, bisa dilihat dari struktur lapisan kertasnya. Yaitu terdiri dari 3 lapisan. Lapisan dinding kertas bagian dalam, dinding kertas bagian luar dan “flute” atau kertas bergelombang untuk bagian tengahnya. Didalam aplikasi nya  lapisan  ini bisa lebih dari 3, tergantung fungsi dan tujuannya. Pada saat ini karton box boleh dikatakan sudah environmental friendly, karena sebagian sudah menggunakan pulp dari kardus bekas yang di daur ulang. Makanya kalau kita melewati pabr...